Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Facebook. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 April 2010

Konten Social Media Mempengaruhi Pencarian Kerja

Jika dulu untuk mencari kerja harus memiliki cover letter dan CV yang memuaskan, kualifikasi yang sesuai, dan akses besar ke informasi lowongan kerja, maka saat ini ada tambahan satu hal yang juga harus diperhatikan, yaitu konten social media yang pernah dipublish untuk publik.
Mengapa hal ini menjadi satu penting yang harus diperhatikan? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh CareerBuilder.com menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan merambah ke social media untuk melakukan background check terhadap calon karyawan mereka. Sebesar 45% dari perusahaan 'melongok' social media sebagai salah satu cara bahan pertimbangan atau screening terhadap calon karyawan. Sebuah peningkatan sebesar 100% setelah setahun sebelumnya hanya 22% dari perusahaan yang melakukan hal ini.

Bagaimana di Indonesia?

Mungkin hal yang sama tidak terjadi di Indonesia. Rasanya belum terlalu banyak human resource department perusahaan yang berniat melakukan background check hingga ke social media. Kebanyakan masih melakukannya dengan bantuan referensi yang disertakan dalam surat lamaran. Akan tetapi mengingat besarnya pengguna situs jejaring pertemanan di Indonesia seperti Facebook, Twitter, LinkedIn, MySpace, YouTube, tinggal menunggu waktu hingga HRD mulai searching nama calon karyawannya di Facebook untuk menilai atau mengetahui lebih jauh tentang calon tersebut.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa sayangnya, para pencari kerja justru sering kali mengabaikan konten social media mereka, dengan pertimbangan bahwa tidak akan memberikan pengaruh bagi penilaian sebagai seorang karyawan. Well, they are proven wrong.

Pandangan Perusahaan

Beberapa alasan yang membuat manajemen enggan mempekerjakan calon karyawan karena konten social media mereka antara lain :
  1. Kandidat memposting konten tentang kebiasaan minum atau menggunakan obat-obatan.
  2. Kandidat menjelek-jeleknya perusahaan tempat ia bekerja dulu.
  3. Kandidat membuat komentar yang berbau SARA atau diskriminatif
  4. Kandidat berbohong tentang kualifikasinya.
  5. Kandidat memposting informasi dari perusahaan tempat ia pernah bekerja.



So, what should you do?

Lalu bagaimana dengan Anda yang sedang dalam proses mencari kerja? Apakah Anda harus ‘puasa’ update status dan memajang foto-foto di akun Facebook? Atau berhenti Twitting sementara sampai ada kepastian? Tentunya tidak sejauh itu. ‘Toh bersosialisasi di dunia maya adalah hak Anda. Rasanya Anda pasti setuju kalau sebenarnya selama kompetensi dan kinerja Anda memuaskan, pertimbangan berdasarkan kegiatan personal Anda tidak bisa dijadikan alasan untuk batal mempekerjakan Anda.
Anda hanya perlu memperhatikan beberapa hal untuk menampilkan reputasi dunia maya yang positif, diantaranya:
  1. Perhatikan album foto online Anda di Facebook, atau tempat lainnya. Hapus foto yang bisa merusak reputasi Anda.
  2. Jangan memamerkan hal-hal negatif ke dunia luar. Fokuskan kepada hal positif, baik yang berhubungan dengan dunia professional maupun personal.
  3. Cobalah untuk membuat grup khusus untuk profesi Anda atau bergabunglah dengan professional group yang ada di FB atau media lainnya. Ini salah satu cara menjalin hubungan dengan para pemimpin, rekruter atau sesama profesi.
  4. Selektif menerima teman. Hanya karena orang meng-add Anda sebagai friend bukan berarti Anda harus selalu menerimanya. Anda tidak akan pernah tahu siapa dibalik nama di FB atau Twitter.
  5. Jika Anda masih bekerja atau terikat dengan perusahaan tertentu, jangan membeberkan pencarian kerja Anda di dunia maya. Bukan tidak mungkin manajemen tempat Anda bekerja sekarang mengetahui hal tersebut dan menilai rendah loyalitas Anda.
  6. Bookmark and Share

Sabtu, 27 Maret 2010

Bekerja di Bidang Akunting dan Keuangan

Hampir tidak ada perusahaan, besar maupun kecil, yang tidak mempunyai divisi yang bertanggung jawab atas keuangan organisasi termasuk diantaranya membuat laporan keuangan. Laporan ini akan digunakan untuk menilai kesehatan dan perkembangan perusahaan serta sebagai bahan pertimbangan bagi stakeholder atau investor dalam mengambil berbagai keputusan yang melibatkan masa depan perusahaan. Laporan ini juga bisa mencerminkan kinerja kerja karyawan yang bertanggung jawab atas pengelolaan manajemen perusahaan tersebut.

Besarnya peran dan fungsi divisi keuangan membuat demand atau permintaan akan tenaga kerja di bidang ini terus meningkat. Di JobsDB.com sendiri ada sekitar ribuan lowongan di bidang akunting, perpajakan dan keuangan yang ditayangkan. Banyaknya permintaan juga membuat ilmu akuntansi dan keuangan banyak diminati calon mahasiswa dengan harapan bisa bekerja di bidang yang paling dibutuhkan perusahaan.

Berdasarkan data lowongan kerja yang tayang di JobsDB.com, beberapa posisi favorit bidang akunting yang paling sering dibutuhkan oleh perusahaan adalah :


1.Staff Akunting
2.Accounting Supervisor
3.Chief Accounting
4.Internal Auditor


Staff Akunting
Karyawan yang memegang posisi ini bertanggung jawab untuk menjalankan proses akunting, cash advance dan laporan pengeluaran yang semuanya akan diintegrasikan ke dalam laporan keuangan.
Kualifikasi yang harus dimiliki untuk menjadi seorang staf akunting :


1.Memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai (D3 / S1 Akuntansi)
2.Menguasai aplikasi komputer untuk akunting
3.Memiliki kemampuan analisa yang baik
4.Detail dan teliti.

Accounting Supervisor
Beberapa tugas penting seorang accounting supervisor adalah memastikan verifikasi dan finalisasi setiap entri jurnal keuangan harian perusahaan, menyiapkan laporan perputaran cash, laporan pajak perusahaan dan laporan keuangan. Seorang accounting supervisor juga harus menciptakan prosedur dan terus mengembangkan sistem internal untuk memastikan efektifitasnya.
Kualifikasi untuk accounting supervisor kurang lebih sama untuk staf akunting, hanya perlu ditambahkan pengalaman, paling tidak 5 tahun di bidang yang sama dan memiliki ilmu komunikasi yang baik, memiliki inisiatif tinggi dan bisa bekerja di bawah pengawasan minimal.

Chief Accounting
Tugas seorang chief accounting lebih kepada mengkoordinir operasional penyusunan laporan keuangan (bulanan maupun tahunan), membuat bujet perusahaan dan perencanaan aliran dana perusahaan. Chief accounting juga harus memimpin jalannya rutinitas di bagian keuangan serta bertanggung jawab akan fungsi total di bagian akunting. Posisi chief accounting memiliki kualifikasi yang sama dengan accounting supervisor dengan tambahan pengalaman paling tidak 5 tahun sebagai supervisor accounting, memahami seluk beluk perpajakan dan pengetahuan yang mendalam mengenai keadaan keuangan perusahaan. Personality traits yang harus dimiliki adalah sikap kepemimpinan yang cukup matang, self-motivated, memiliki manajemen waktu yang baik dengan keterampilan komunikasi yang baik.

Internal Auditor
Posisi ini muncul dari kegiatan khusus bidang akuntansi dengan menggunakan metode penilaian. Secara luas fungsinya adalah membantu perusahaan untuk meraih target dengan melakukan aktifitas internal auditing. Dengan melakukan analisa proses, prosedur dan aktifitas bisnis dan pengawasan, internal auditor berusaha untuk menyempurnakan setiap aktifitas penilaian dan pengawasan. Scope dari tanggung jawab seorang internal auditor sangat luas mencakup diantaranya efektifitas operasional, reabilitas laporan keuangan, pendataan dan penjagaan aset perusahaan serta memastikan perusahaan berjalan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku.

Kualifikasi yang harus dimiliki untuk menjadi seorang internal auditor:

1.Memiliki latar belakang pendidikan akuntansi/ perpajakan
2.Memiliki pengalaman di institusi keuangan, mempersiapkan rencana dan laporan audit
3.Memiliki pengetahuan mengenai sistem dan peraturan perpajakan
4.Terkadang memiliki sertifikat (contoh C.I.A) juga dibutuhkan
5.Personality traits yang dibutuhkan antara lain adalah ; jujur, teliti, disiplin and bertanggung jawab.

Sumber : http://www.jobsdb.co.id/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/kerja%20akunting%20keuangan?ID=322

Bookmark and Share

Kamis, 11 Maret 2010

Apakah Anda Harus Menutup Akses Sosial Media Network untuk Karyawan Anda?


Saat ini, bisa dipastikan hampir semua orang yang berada dalam lingkaran network Anda adalah pengguna aktif atau anggota salah satu website social network seperti Facebook, Twitter, Plurk, MySpace atau jaringan sosial khusus professional seperti LinkedIn. Dengan fitur yang berbeda-beda, pada dasarnya tiap website ini memberikan sarana bagi setiap penggunanya untuk terhubung dengan user lainnya melalui dunia maya instantly, dengan cara share berita pendek atau informasi personal maupun professional dengan pengguna lainnya. Situs ini seringkali dijadikan sarana untuk menjalin pertemanan atau mengembangkan network dengan dengan jangkauan lebih luas lagi.
Dengan alasan produktifitas, banyak perusahaan memblokir akses karyawan mereka terhadap situs-situs pertemanan tersebut. Sebuah penelitian di USA menemukan bahwa 54% perusahaan memblokir akses karyawan mereka ke situs-situs tersebut. Mereka melihat situs tersebut akan mengalihkan konsentrasi atau perhatian para karyawan.
Hal tersebut dilakukan perusahaan mengingat hasil penelitian dari sebuah lembaga di USA juga mendapati rata-rata waktu yang dihabiskan karyawan untuk mengakses situs pertemanan di kantor bisa mencapai 2 jam. Sehingga munculnya perkiraan bahwa perusahaan bisa mengalami kerugian hingga US $ 2,25 milyar pertahunnya. Jumlah dan kenyataan yang sungguh mencengangkan bukan?
Di Indonesia yang pemakai Facebooknya termasuk top ten di dunia (ranking 7) juga mengalami hal yang sama. Jangan lupa bahwa sebuah institusi pemerintahan di Jawa Timur menutup akses Facebook karena membuat kinerja pegawai negeri sipil jadi ‘ngaco’.
Sebenarnya perlukah perusahaan Anda menutup akses karyawan sepenuhnya terhadap situs-situs pertemanan ini? Karena walaupun Anda menutup akses Internet ke social media, cukup dengan smart phone bahkan telepon genggam biasa, mereka sudah bisa mengakses Facebook, Twitter dan situs lain.
Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum Anda memberlakukan peraturan atau ketentuan tentang akses karyawan terhadap social media atau Internet.
Nature of the company.
Jika perusahaan Anda bergerak di bidang public relations atau firma marketing , karyawan dengan akses luas ke sosial media bisa membantu mempopulerkan perusahaan atau membentuk image di mata masyarakat , bahkan bisa digunakan sebagai alat untuk membantu pengembangan bisnis dan mendapatkan potential client. Perusahaan yang sedang menciptakan pasar bagi produk tertentu juga bisa menggunakannya sebagai sarana informasi dan komunikasi dengan para penggunanya. Yang perlu diperhatikan adalah pemilahan karyawan yang diberi keleluasaan seperti mereka yang menangani promosi atau PR.
Alokasi waktu dan buat ketentuan atau peraturan yang jelas.
Jika Anda membutuhkan dukungan dari network, yang dimiliki karyawan untuk mempromosikan sebuah event atau produk perusahaan, pastikan ada peraturan yang melindungi dan menjamin hak dan kewajiban karyawan dan juga Anda. Contoh, komitmen bahwa promosi akan berjalan sesuai dengan keinginan perusahaan, tidak ada paksaan bahwa mereka harus menggunakan jejaring mereka untuk target promosi, alokasi waktu dalam jam kerja yang memperbolehkan mereka mengakses situs-situs tersebut di jam kantor dan lain sebagainya. Sampaikan dengan jelas dan berpeganglah pada komitmen ini.
Jangan membabi buta.
Jika Anda menutup akses Internet karyawan sepenuhnya dengan harapan mereka akan jadi lebih produktif maka sama saja Anda menghalangi mereka untuk mendapatkan tambahan informasi atau pengetahuan yang justru bisa mengembangkan karakter dan keterampilan mereka. Be wise dalam menentukan kebebasan mereka dalam berinternet dengan menggunakan fasilitas kantor.

Jika sudah terbukti mengganggu kinerja, Anda berhak memberlakukan peraturan tentang fasilitas yang diterima karyawan termasuk akses Internet. Buat peraturan yang jelas mengenai fasilitas kantor yang hanya bisa digunakan untuk kepentingan pekerjaan, bukan untuk keperluan pribadi. Lengkapi dengan sanksi bisa berakibat pada appraisal atau penilaian kerja mereka. Sosialisasikan dengan jelas kepada setiap karyawan dan jangan lupa jelaskan alasannya disertai bukti-bukti yang akurat.

Remember!

Kesuksesan dilatih dengan keseimbangan hidup, so be balanced
Chandra Ming (General Manager JobsDB.com)

AddThis

Share |