Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Mei 2010

Enam ‘Jangan’ untuk Kepemimpinan Anda

Apa yang Anda rasakan sesaat setelah Anda memegang posisi sebagai pemimpin? Excited, bersemangat, bangga berbaur jadi satu. Namun diantara campuran perasaan itu, mungkin terselip juga sedikit rasa khawatir dan berbagai pertanyaan. Apa yang harus dilakukan untuk jadi pemimpin yang hebat dan dihormati karena memang kompeten untuk memimpin dan mengayomi anak buahnya? Apa yang dibutuhkan untuk mengemban tanggung jawab baru ini?
Banyak nasehat yang diberikan para senior untuk para penerusnya. Beberapa diantaranya mungkin bisa diterapkan secara general, namun ada pula hal-hal yang membutuhkan hal spesifik dan khusus sesuai dengan nature dan budaya tim Anda. Bercermin kepada pemimpin sebelumnya juga salah satu jalan, namun apakah Anda memiliki kepribadian yang sama dengan beliau? Bekerja dan memimpin dengan mengabaikan kepribadian sendiri sama saja dengan bekerja di bawah bayang-bayang orang lain.
Ada beberapa "jangan" yang bisa membantu Anda menjalankan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.
  1. Jangan berhenti untuk mematangkan karakter.
    Inilah salah satu asset berharga yang akan membantu menjalankan tugas sebagai pemimpin, termasuk untuk memperoleh respek dari anak buahnya. Hal ini bisa ditandai dengan karisma yang dimiliki, mampu menjaga perilaku, emosi dan bersedia untuk terus meningkatkan intelegensia. Teruslah untuk berusaha mematangkan karakter Anda. Ambil pelajaran dari pengalaman sendiri dan orang lain, termasuk pemimpin Anda terdahulu. Tentunya selama terbukti efektif diaplikasikan dengan tim Anda sekarang. Perhatikan cara Anda menyelesaikan masalah dan krisis, ingatlah untuk selalu berpegang pada prinsip yang Anda anut, namun jangan lupa untuk menjadi fleksibel selama tidak membuat Anda jadi bermuka dua dan jadi orang yang tidak memiliki pendirian.
  2. Jangan main tebak-tebakan dengan anggota tim Anda.
    Akan sulit bagi mereka untuk bekerja jika instruksi dan ekspektasi Anda tidak disampaikan dengan jelas. Pastikan untuk check and recheck pemahaman mereka akan instruksi dan harapan serta standar kerja dari Anda. Jika karyawan tersebut sudah berpengalaman biarkan mereka menjalankan tanggung jawab dengan cara mereka sendiri selama tidak melanggar kode etik perusahaan dan kemanusiaan. Namun jika dibutuhkan, selalu siaplah untuk memberikan saran tentang cara menjalankan tanggung jawab pekerjaan.
  3. Jangan berusaha untuk mengubah tim.
    Setiap anggota telah memiliki cara kerja dan gaya sendiri untuk menyelesaikan tugas kerja. Sekalipun Anda merasa strategi mereka sudah seharusnya diganti, tahanlah keinginan untuk mengkritik dan merombak gaya mereka. Selama hasil yang diberikan sesuai dengan target, biarkan tim Anda menjalankan tanggung jawab mereka dengan cara yang dirasa paling nyaman. Namun Anda harus selalu siap saat masing anggota meminta saran dari Anda atau saat kinerja dan target mereka tidak sesuai harapan. Membiarkan mereka dengan caranya sendiri bukan berarti Anda tidak tahu detail pekerjaan mereka.
  4. Jangan mengambil semua pujian.
    Saat target terpenuhi bahkan terlampaui, saat Anda menerima pujian karena kesuksesan memimpin tim, pastikan untuk membagi setiap sanjungan kepada anggota tim. Tunjukkan bahwa kesuksesan Anda tidak berarti tanpa kerja keras semua anggota tim. Ucapkan terima kasih kepada mereka atas kerja keras dan loyalitas yang diberikan. Jika memungkinkan jangan segan untuk membagikan bonus selama sesuai dengan prestasi kerja.
  5. Jangan cuma bicara.
    Daripada selalu menggunakan kata-kata untuk ‘menggeber’ semangat kerja, tunjukkan dengan melakukan tindakan yang nyata. Mulailah dengan hal sederhana seperti mematuhi peraturan kantor untuk datang tepat waktu, tidak perhitungan dengan jam kerja saat harus mengejar tenggat, bersedia untuk terus mengupgrade diri, terbuka terhadap pendapat orang lain dan perubahan.
  6. Jangan gampang "meledak”.
    Tidak selamanya pekerjaan Anda menyenangkan. Akan ada saat Anda ingin ‘meledak’ karena emosi dan marah. Ketika saat itu tiba cobalah untuk menahan diri untuk tidak memuntahkannya saat itu juga. Ingatlah bahwa respek dari anak buah dengan mudah bisa hilang saat melihat atasannya kehilangan kendali atas emosinya didepan umum.
Remember!

Di atas langit masih ada langit, jangan lupakan orang-orang yang ada di belakang Anda.

Chandra Ming (General Manager JobsDB.com)

Artikel ini juga bisa di baca di Harian Sore Suara Pembaruan edisi Minggu 1 Mei 2010 dan di website lowongan kerja.
Bookmark and Share

Senin, 15 Februari 2010

Ciri Pemimpin yang Matang


Saat kursi kepemimpinan dipegang oleh seseorang yang masih muda, seringkali ada anggapan bahwa kapabilitas dan kekuatan karakter maupun skill dalam menghadapi tekanan akan dipertanyakan oleh orang lain maupun anak buahnya sendiri. Ada pikiran skeptis dikalangan luas bahwa orang muda tidak mampu atau setidaknya belum layak untuk memimpin. Image yang melekat dan cenderung menjadi stereotype adalah bahwa pemimpin itu harus yang senior, pintar, dan berpengalaman.
Padahal, jika melihat realitas saat ini, banyak generasi muda yang sukses membangun bisnis, bertahan dari terpaan masalah internal dan krisis global, hingga akhirnya membawa organisasi menuju puncak. Mereka juga seringkali memiliki stamina dan pemikiran-pemikiran yang fresh, out of the box yang sebenarnya mampu mendobrak stigma senior memimpin lebih baik.

Hal ini menunjukkan bahwa ada kekhawatiran yang tidak perlu bahwa junior tidak memiliki mental leadership dan kurang dewasa dalam bersikap. Sebab, kedewasaan atau kematangan seseorang bukanlah ditentukan oleh usia mereka, melainkan pada kematangan emosi dan karakter.
Banyak pemimpin yang handal dalam menjalankan organisasi namun ternyata memiliki karakter kepemimpinan yang tidak berkembang, misalnya ahli dalam strategi bisnis, memiliki ide-ide yang brilian, keterampilannya dalam berbagai hal terus berkembang, namun ia tidak bisa mengendalikan emosi, tidak bisa membangun hubungan dengan karyawan, tidak bisa berperan sebagai mentor.
Semua sikap itu menunjukkan seorang pemimpin yang belum mature secara utuh. Sebab, idealnya seorang pemimpin bukan hanya matang jiwanya, tapi juga cara memimpinnya, tingkat intelektualitasnya, passion-nya terhadap apa yang dikerjakan, dan spiritualitasnya. Masing-masing unsur mature leadership akan dijelaskan dibawah ini:
Matang secara emosi. Pemimpin yang EQ (Emotional Quotation)-nya tinggi memiliki kemampuan mengelola perasaannya dengan sangat baik. Sikapnya cenderung tenang, stabil, berjiwa besar, rendah hati, dan mampu membina hubungan baik dengan orang lain. Pemimpin yang kurang matang selalu mengedepankan emosinya manakala menghadapi masalah. Akibatnya ia akan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa berdasarkan penilaian subyektif dan akhirnya berbuah kesalahan. Bagaimana seorang menyikapi, merespon, dan bereaksi terhadap suatu keadaan dapat menunjukkan tingkat kedewasaan yang ia miliki sekaligus menentukan kadar interaksi sosialnya. Pemimpin yang mudah emosi, egois, asosial, dan selalu berpikir negatif akan membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman bagi anak buah, sehingga pada akhirnya dapat mengganggu kondusifitas dan produktifitas kerja.
Matang dalam bersikap. Kedewasaan seorang pemimpin akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Pemimpin yang ikhlas dalam menjalankan tugasnya akan bekerja keras tanpa pamrih. Ia tidak akan menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi, selalu jujur, dan bertanggung jawab pada setiap hal yang menjadi kewajibannya. Dengan sikapnya yang selalu mengayomi dan peduli, ia dihormati dan dicintai oleh anak buahnya. Ketegasan dan konsistensinya dalam memimpin menjadi teladan bagi semua orang.
Matang secara intelektual. Tidak berarti bahwa ia harus genius dan ber-IQ tinggi. Maksudnya adalah kemampuan dan kemauan untuk terus belajar dan meng-upgrade diri. Kejeliannya dalam mengidentifikasi permasalahan, memilih alternatif, dan akhirnya memutuskan yang terbaik bagi organisasi. Ia harus menguasai bidangnya, baik yang dicapai melalui jalur akademis maupun berdasarkan pengalaman.
Memiliki passion yang kuat. Pemimpin merupakan tumpuan bagi pengikutnya. Jika seorang pemimpin bersikap lemah, maka anak buahnya menjadi goyah. Pemimpin yang sukses itu orang-orang yang memiliki mental kuat, tahan banting, berdaya juang tinggi, berani ambil resiko dan keluar dari zona nyaman, serta pantang menyerah. Namun, dibalik sikapnya yang terlihat agresif dan ambisius, ia adalah seorang yang humble, tidak kaku, dan pintar bergaul.
Matang secara spiritual. Pemimpin yang matang secara spiritual dapat menjadi imam bagi para pengikutnya. Kepemimpinannya dianggap sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan sehingga ia tidak akan menggunakannya dengan semena-mena. Ketaatannya pada keyakinan yang dianut dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi anak buah. Kebaikan-kebaikan dan nilai moral yang dimiliki oleh pemimpin sebagai hasil dari kerelijiusannya akan membuat pengikutnya bertambah hormat dan percaya padanya.
Remember!


Usia bukanlah ukuran kepemimpinan, melainkan karakter, skill, dan spiritualisme.
Artikel juga bisa di baca di link ini. To read more article you can go here

AddThis

Share |